Duduk yang melibatkan aktivitas pikiran berpotensi kurangi demensia
Studi yang diterbitkan di American Journal of Preventive Medicine baru-baru ini menunjukkan bahwa duduk yang melibatkan aktivitas otak dapat berperan dalam mengurangi risiko demensia atau kesehatan otak jangka panjang.
Dikutip dari laman Everyday Health (25/3), peneliti utama studi dari Karolinska di Stockholm, Mats Hallgren, PhD mengatakan jika orang mengganti kebiasaan duduk pasif dengan aktivitas yang melibatkan pikiran (baik yang tidak banyak bergerak maupun yang aktif secara fisik), hal itu berpotensi mengurangi jumlah orang dewasa yang kemudian mengembangkan demensia.
Studi ini menganalisis data dari sekitar 21.000 orang dewasa berusia antara 35 dan 64 tahun dalam Kohort Maret Nasional Swedia. Hampir 70 persen adalah perempuan, dan mereka dipantau selama hampir dua dekade.
Mereka melaporkan perilaku tidak aktif secara fisik termasuk menonton TV, mendengarkan musik, dan duduk di bak mandi. Aktivitas tidak aktif secara mental termasuk bekerja di kantor, membaca buku, duduk dalam rapat, merajut, dan menjahit.
Para peserta juga melaporkan tingkat aktivitas fisik mereka, termasuk waktu mingguan yang dihabiskan untuk berjalan kaki, jogging, berenang , atau latihan berat.
Hasil penelitian menemukan perilaku duduk pasif secara mental dikaitkan dengan kejadian demensia yang lebih tinggi, namun perilaku duduk yang aktif secara mental dikaitkan dengan penurunan risiko terkena demensia.
Setiap tambahan satu jam per hari dari perilaku duduk yang aktif secara mental juga dikaitkan dengan penurunan risiko terkena demensia sebesar 4 persen.
Sementara itu meningkatkan perilaku duduk aktif selama satu jam per hari sambil mempertahankan tingkat perilaku duduk pasif dan aktivitas fisik apa pun, dikaitkan dengan risiko demensia yang 11 persen lebih rendah.
Seorang ahli neurologi di Washington, DC, Majid Fotuhi MP, PhD yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan penelitian ini menggeser percakapan dari 'hindari duduk' menjadi ' aktifkan otak Anda' yang jauh lebih bermakna untuk kesehatan otak jangka panjang.
“Dengan kata lain, tidak semua duduk itu sama. Duduk dapat melemahkan otak Anda atau memperkuatnya, tergantung bagaimana Anda menggunakan waktu tersebut,” kata Fotuhi.
Banyak aktivitas yang biasanya dilakukan sambil duduk dapat memperkuat otak seperti menulis dan membuat karya seni, yang berpotensi menurunkan risiko demensia dan penyakit alzheimer, tambahnya.
Di sisi lain, menurut ahli neurologi perilaku Joel Salinas MD aktivitas menggulir layar tanpa berpikir dan berulang-ulang tanpa refleksi atau interaksi cenderung merupakan aktivitas pasif secara mental.
Namun, jika menggunakan ponsel untuk mempelajari sesuatu yang baru, membaca secara mendalam, atau terlibat secara mendalam, bisa menjadi aktivitas yang aktif secara mental.
Terlepas dari temuan penelitian tersebut, Fotuhi mengatakan bahwa duduk terlalu lama masih dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terkena stroke, serangan jantung, alzheimer, dan masalah kesehatan lainnya.
Salinas menambahkan, aktivitas fisik sangat penting untuk menjaga kesehatan otak dan tubuh.
“Aktivitas yang melibatkan pikiran mungkin memberikan manfaat tambahan, tetapi tidak mengimbangi efek sistemik dari kurangnya aktivitas fisik dalam jangka panjang,” kata Salinas.
Meskipun duduk dalam jumlah tertentu tidak dapat dihindari, Hallgren menyarankan untuk menyelingi periode duduk pasif yang panjang dengan sesuatu yang menantang secara mental.
0 Response to "Duduk yang melibatkan aktivitas pikiran berpotensi kurangi demensia"
Posting Komentar